Apakah jaksa masih harus membuktikan putusan bebas tidak murni?

Pertanyaan ini barangkali memang klasik tetapi masih banyak praktisi hukum yang terjebak dalam pandangan bahwa untuk upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas jaksa harus membuktikan bahwa putusan bebas tersebut merupakan putusan bebas tidak murni (verkapte vrijspraak)

Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 244 KUHAP yang berbunyi “Terhadap putusan perkara pidana yang diberikan pada tingkat terakhir oleh pengadilan lain selain daripada Mahkamah Agung, terdakwa atau penuntut umum dapat mengajukan permintaan pemeriksaan kasasi kepada Mahkamah Agung kecuali terhadap putusan bebas” yang mana ketentuan tersebut pada dasarnya tidak membolehkan upaya hukum kasasi terhadap putusan bebas.

Bahwa terhadap ketentuan tersebut di atas masih dibuka jalan untuk melakukan upaya hukum kasasi secara contra legem berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman No. M.14-PW.07.03 tanggal 10 Desember 1983 yang menyatakan bahwa berdasarkan situasi dan kondisi, demi hukum, keadilan dan kebenaran, terhadap putusan bebas dapat dimintakan kasasi. Ketentuan tersebut ditindaklanjuti dengan keluarnya yurispridensi Mahkamah Agung Nomor 275K/Pid/1983 yang menyatakan bahwa permohonan kasasi dapat dikabulkan atas putusan bebas yang dikategorikan sebagai putusan bebas tidak murni (verkapte vrijspraak). Putusan bebas tidak murni adalah apabila didasarkan pada penafsiran yang keliru terhadap sebutan tindak pidana yang disebut dalam surat dakwaan dan bukan didasarkan pada tidak terbuktinya unsur-unsur perbuatan yang didakwakan, atau apabila dalam menjatuhkan putusan itu pengadilan telah melampaui batas wewenangnya dalam arti bukan saja dalam wewenang yang menyangkut kompetensi absolut dan relatif, tetapi juga dalam hal apabila ada unsur-unsur non yuridis turut dipertimbangkan dalam putusan pengadilan itu.

Namun keharusan Penuntut Umum untuk membuktikan putusan judex factie merupakan putusan bebas tidak murni dengan alasan-alasan yang disebut di atas menjadi tidak berlaku lagi ketika Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan Nomor 114/PUU- X/2012 Tanggal 28 Maret 2013, yang menyatakan frasa “KECUALI TERHADAP PUTUSAN BEBAS” Bertentangan Dengan UUD 1945 dan Tidak Memiliki Kekuatan Hukum Mengikat. Dengan demikian terhadap putusan bebas dapat diajukan upaya hukum kasasi tanpa perlu dipersoalkan lagi apakah putusan tersebut bebas murni atau bebas tidak murni.

Bahwa alasan-alasan kasasi yang dapat dimohonkan sudah ditentukan “secara limitatif” di dalam Pasal 253 ayat (1) KUHAP. Pemeriksaan kasasi dilakukan Mahkamah Agung berpedoman kepada alasan-alasan tersebut. Sejalan dengan itu, pemohon kasasi harus mendasarkan keberatan-keberatan kasasi bertitik tolak dari alasan yang disebutkan Pasal 253 ayat (1) KUHAP. Yang harus diutarakan dalam memori kasasi ialah keberatan atas putusan yang dijatuhkan pengadilan kepadanya, karena isi putusan itu mengandung kekeliruan atau kesalahan yang tidak dibenarkan oleh Pasal 253 ayat (1) KUHAP.

Alasan-alasan kasasi yang diperkenankan atau yang dapat dibenarkan Pasal 253 ayat (1) KUHAP terdiri dari :

  1. Apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan atau diterapkan tidak sebagaimana mestinya;
  2. Apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan undang-undang;
  3. Apakah benar pengadilan telah melampaui batas wewenangnya.

My Best Shots : ”Sunset”

Peristiwa sunset dapat menghadirkan suasana batin tersendiri. dan pantai barat sumatera memang menjanjikan pengalaman yang tak terlupakan ketika menyaksikan pemandangan spektakuler tersebut.

Berikut sedikit hasil jepretan kamera handphone saya yang sempat mengabadikan beberapa momen tersebut sambil menikmati santapan menu seafood ikan karang, cumi, dan udang khas jajanan pinggir pantai Padang. enjoy ! Senyum

151020101513151020101514151020101499

it’s been a while,,, :)

040820101350Hello folks, it’s been a while since my last post. Well many things have been going in life but had no opportunity to tell them all to you. My bad 😦

yep, this is what i look like at the moment >> where i actually do not wear glasses in my daily though im considering to do so.

Later on, im gonna tell you about the Resolution i have set for a year ahead. Yes, i realize that this is not a new year, but im preferably like to create my Resolution before entering Ramadan. I just think the moment will be a right startpoint. Ramadan and Eid are the moment of rebirth to a new personality where in a full month we got trained controlling our emotion and anger to unnecessary things. that would be great, right?

last but not least, before entering Ramadan i would like to keep our heart clean so there im asking for apologies on every mistake i’ve done to you. Lets welcome our Ramadan Kareem together 🙂

My Best Shots – premiere edition

Sebagaimana telah saya ceritakan sebelumnya, seni fotografi cukup menjadi perhatian saya belakangan. Mengutip pendapat seorang teman dari Australia yang menilai hasil jepretan saya, “you’ve got eyes for photography”. Benarkah?

Bagaimana menurut Anda?

bayang

jemuran shine

hazy morning

Well, apakah karya saya cukup mengesankan sebagai seorang amatiran? hope i can do it better in the future. Don’t ever miss it. [ nantikan edisi My Best Shots selanjutnya….! ]

[Taubat : Press Release]

Bismillah.

Dengan sisa-sisa optimisme dan kepekatan hati untuk menempa diri menjadi seorang perangkai kata, sekali lagi mencoba memberi kesempatan pada diri ini untuk kembali mensintesa kata-kata membentuk untaian cerita yang insya Allah bermakna.

taubat21 “aku… melihat… kematian.”
Sampai disana ia kembali berhenti. Lagi, berderai air mata tercurah membasahi wajahnya.

Nantikan kisahnya,

hanya di

menitikembali.wordpress.com

Bidadari – Episode 4

lanjutan dari episode sebelumnya

Ini adalah bulan ke-enam sejak pertama aku melihat Bidadari.

Namun, semenjak itu tak sekalipun juga mataku bersirobok dengan sosok gadis berjilbab lebar yang tangannya sedang menari-nari di atas kertas sambil sesekali tertawa bersama teman-temannya.

Pembicaraanku dengan Razi kala itu sedikit banyak mengusik pikiranku. Pertanyaan Razi malah menggiringku pada persangkaan-persangkaan diriku sendiri. Bahwa perasaanku pada Bidadari ternyata hanyalah nafsu belaka? Bahwa ternyata sejauh ini perubahanku hanya bermotifkan keinginan mempersunting seorang istri yang shalehah? Bahwa aku telah mencoba menipu Allah dengan menyembunyikan niat yang sebenarnya untuk berubah?

Astagfirullah Al Adziiim…

Allahu Rabbi, mungkinkah yang kulihat kala itu benar-benar seorang Bidadari? Yang hanya singgah sebentar ke Bumi untuk menunjukkan KeMahaKuasaan-Mu?. Mungkinkah dengan itu Engkau memberiku jalan sehingga menemukan hidayah-Mu untuk bergabung bersama Majelis Taklim sehingganya aku bisa mulai merajut kembali tali iman yang sudah putus sehingga menjadi utuh kembali?

Tak dinyana keningku tersungkur menyentuh sajadah. Mata ini menangis, aku merasa sangat angkuh di hadapan Allah. Aku menangisi kecongkakanku yang menafikan kekuasaan-Nya. Aku menangisi kelengahanku akan KeMahaDayaan Allah…

Bahwasanya ‘Kun’, fayakun. Maka segala sesuatu itu terjadilah.

Tidak ada yang sukar bagi Allah. Justru manusialah yang terlalu dhaif untuk menalar kekusaan-Nya. Allah telah mengepungku dengan manusia-manusia yang luar biasa : ada Razi yang terus sabar membimbingku. Ada Haykal yang menjadi teladanku, dan ada Bidadari yang senantiasa terus mengilhamiku. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Hamba kembali pada-Mu Ya Allah… seutuhnya.

Baca lebih lanjut

Bidadari – Episode 3

lanjutan episode sebelumnya…

Posisi bantal kubetulkan, aku ingin tidur secepatnya sehingga dapat bangun shubuh lebih awal.

Banyak sekali nashihah yang kuperoleh dari liqa’ malam ini. Mulai dari cara bersikap saat makan, posisi tidur, sampai sikap pada pasangan hidup. Walah, pikiranku kembali melayang pada Bidadari. Sudah berapa lama ya, aku tidak melihatnya? Seabrek kegiatan di ‘komunitas’ku yang baru sedikit banyaknya menyita waktu. Kantin labor sudah jarang kukunjungi. Entah sudah berapa bunga di taman yang telah berganti daun tanpa kuketahui. Entah sudah berapa kali pemandangan Bidadari yang tangannya sedang menari-nari di atas kertas kulewatkan. Aku merindukan pemandangan itu, aku merindukan Bidadari…

Esoknya di kantin Labor…

flower1“Lagi nyari apa sih, Fan?” sergah Razi. Seakan tak peduli mataku tetap kelirang keliring menyapu ruangan kantin, berharap menemukan sosok berjilbab panjang yang sedang memegang pulpen sembari memainkan jemarinya di atas kertas note. Tapi, Bidadari tetap tak kutemukan. Dimana ya, gerangan?

“Woi, ngapain sih lu?” Razi barangkali sudah gerah dengan sikapku yang cukup mengganggu aktivitas sarapannya itu. dan demi menuntaskan rasa penasarannya, ia kembali memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.

“Fan, gua pingin tanya sesuatu, dan sebenarnya dah lamaaaa sekali gua mau nanya ini ke elo” Razi memulai interogasinya. Sadar dengan sikap serius Razi, akupun mulai menata pandanganku kembali.

“Ya, apa itu?”

“Fan, salah satu bukti kekuasaan Allah adalah Dia-lah Sang Pembolak-balik hati manusia. Dia yang menentukan kepada siapa Dia memberikan hidayah-Nya dan siapakah di antara orang-orang yang diberi hidayah itu yang terbuka hatinya lalu memohon ampun kepada-Nya. Gua yakin hal itu, karena gua sudah liat sendiri yang terjadi sama elo Fan. Gua masih ingat betapa keras hati-nya lo waktu dulu-dulu gua ngajakin gabung liqa‘, dengan segala penjelasan yang gua berikan, tapi tetap ajaaa lo gak terpengaruh, yang ada malah lo debat sama gua bahwa menurut lo beragama itu tidak harus melalui simbol-simbol tapi cukup dipandang sebagai hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhannya. Lalu siapa kira, tiga minggu yang lalu dengan tidak disangka-sangka lo datang ke gua dan bilang kalo lo mau gabung ke liqa‘…. Subhanallah Fan…Subhanallah, itulah hidayah Allah, itula kekuasaannNya…Allahuakbar”

sedikit tersipu, aku mengangguk.”Ya Zi, gua sendiri takjub”

kemudian Razi melanjutkan kata-katanya.

Baca lebih lanjut