Manajemen Bencana untuk Indonesia

Sehubungan dengan rentetan bencana alam yang terjadi baru-baru ini di Indonesia, sejak banjir bandang di Wasior sampai dengan letusan gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai yang terjadi hampir bersamaan, kita disuguhkan kembali tentang penanganan bencana yang kurang tertata dengan baik. Kita memang tidak pernah belajar dari kesalahan.

Penanganan bencana yang terjadi selama ini bersifat reaksioner dan tidak tertata dengan baik. Setiap satuan dari pemerintah dan NGO bergerak atas komando dan inisiatif masing-masing. Pemerintah daerah yang seharusnya menjadi front row dalam penanganan bencana justru lumpuh sebelum waktunya.

Belajar Dari Jepang

Jumlah korban tsunami di Aceh sebanyak 173. 981 jiwa seharusnya telah menyadarkan pemerintah tentang perlunya manajemen penangangan bencana yang terstruktur dalam rangka mengurangi dampak bencana yang terjadi. Pemerintah Jepang, dengan bencana Teluk Itse yang memakan korban 5.098 jiwa saja telah menyadari kesalahannya dan pada tahun 1961 menetapkan Undang-undang mengenai Pedoman Penanggulangan Bencana.

Undang-undang ini menyebutkan bahwa Perdana Menteri sebagai ketua, bertugas untuk memimpin badan Komite Penanggulangan Bencana Nasional. Anggota Komite terdiri atas seluruh menteri kabinet serta organisasi semi pemerintah yang berhubungan erat dengan bencana alam (anggota saat ini, Palang Merah Jepang, Bank Jepang, NHK, KDD). Komite ini merupakan badan koordinator pengendalian bencana tertinggi di tingkat pusat. Perdana Menteri dapat menunjuk BUMN seperti perusahaan listrik, gas, transportasi, dan komunikasi sebagai badan sosial yang bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana.

Ditegaskan bahwa pemerintah berkewajiban untuk melaporkan rencana dan langkah yang telah diambil didalam penanggulangan bencana pada setiap tahun fiskal kepada parlemen. Maka terbentuklah sistem yang membuat “bencana alam” sebagai bahan pembahasan penting bagi negara yang harus dibahas di parlemen sekalipun jumlah bencana alam yang terjadi tidak banyak pada tahun tesebut.

Tanggung jawab negara, ibu kota, pemerintah provinsi, kabupaten, kota dan desa, badan-badan sosial yang ditunjuk, penduduk, dan lain-lain menjadi jelas. Pihak-pihak yang berkepentingan ini diwajibkan untuk menyusun rencana penanggulangan bencana.

Pada bulan Januari 1995, terjadi gempa bumi berkekuatan 7,3 skala richter di Hanshin dan Awaji. Tercatat jumlah korban bencana ini mencapai angka 6.437 jiwa. Gedung Pemkot Kobe setinggi 6 lantai porak poranda. Polisi dan petugas pemadam kebakaran yang berada di garda depan penanggulangan terlambat datang ke lokasi bencana karena markas yang seharusnya menjadi pusat komando bencana dan para pemimpinnya ikut menjadi korban.

Dalam UU tentang Pedoman Kebijakan Penanggulangan Bencana ditetapkan pada dasarnya penangggulangan bencana bersifat bottom—up. Aparat desa adalah perangkat pemerintah yang pertama kali harus menanggulangi bencana. Apabila penanganan bencana jauh di luar kemampuan aparat desa, maka bencana akan ditangggulangi oleh pemerintah ibu kota dan provinsi. Permasalahnya, ketika kota mengalami kerusakan, maka fungsinya sebagai pusat penanggulangan bencana tidak dapat dijalankan.

Berdasarkan pengalaman tersebut, pada bulan Desember tahun 1995 dilakukan revisi UU tentang Pedoman Kebijakan Penanggulangan Bencana. Ketika bencana luar biasa besar melanda, Perdana Menteri dapat langsung membentuk Pusat Penanggulangan Bencana Darurat meskipun tidak ada pengumuman darurat bencana. Perdana menteri juga dapat langsung menurunkan perintah kepada kepala instansi pemerintah yang telah ditunjuk sebelumnya.

Fakta membuktikan bahwa 80% dari korban meninggal akibat tertimpa bangunan. Oleh sebab itu di Jepang tumbuh kesadaran akan pentingnya Pencegahan dini bencana. Untuk menekan jumlah korban gempa, bangunan wajib dibuat dengan konstruksi tahan gempa. Saat ini pun, di Jepang terus diupayakan dengan cepat untuk menambah kekuatan konstruksi rumah dan fasilitas sosial.

Di Jepang, dengan dipimpin langsung oleh Perdana Menteri, setiap tahunnya dilakukan latihan evakuasi secara menyeluruh. Kesadaran akan penanggulangan bencana menjadi demikian tinggi di kalangan instansi, organisasi juga di kalangan penduduk. Mengacu pada undang-undang tersebut, tanggal 1 September telah ditunjuk sebagai Hari Pencegahan Bencana. Selama Minggu Reduksi Bencana yang berpusat pada hari tersebut, lebih dari 3,5 juta orang Jepang, termasuk Perdana Menteri, ikut serta dalam latihan-latihan kesiapan menghadapi bencana yang diadakan oleh seluruh warga negara Jepang.

Sejauh ini, pemerintah Indonesia telah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008. Sebelumnya badan ini bernama Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005, menggantikan Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi yang dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 3 Tahun 2001.

Struktur BNPB :

  • Kepala (Dr. Syamsul Ma’arif, S.IP, M.Si sejak tahun 2008)
  • Unsur Pengarah Penanggulangan Bencana
    • 10 orang pejabat pemerintah eselon 1
    • 9 orang anggota masyarakat profesional
  • Unsur Pelaksana Penanggulangan Bencana
    • Sekretariat Utama
    • Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan
    • Deputi Bidang Penanganan Darurat
    • Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi
    • Deputi Bidang Logistik dan Peralatan
    • Inspektorat Utama
    • Pusat
    • Unit Pelaksana Teknis

Selain itu, juga dibentuk struktur BNPB tingkat Propinsi, dan Kabupaten/Kota

Selain itu, pemerintah dan sejumlah pihak terkait juga telah mengapungkan wacana untuk melahirkan kebijakan Asuransi Bencana.

VIVAnews – Wacana untuk menggulirkan asuransi bencana masih terus dipelajari. Asuransi itu yang banyak diterapkan di negara maju itu akan memberikan manfaat dari risiko khusus seperti bencana.

"Yang harus dipelajari dengan baik adalah bagaimana sistemnya, preminya, pengelolaan risikonya, dan bagaimana pencairannya kalau seandainya bencana itu terjadi," kata Menteri Keuangan Agus Martowardojo usai peringatan Hari Keuangan ke-64 di Plaza Barat, Senayan, Jakarta, Minggu 31 Oktober 2010.

Menurut dia, untuk mendukung program asuransi bencana itu, perusahaan reasuransi yang dilibatkan harus perusahaan besar dan mempunyai kemampuan keuangan yang baik. "Jangan sampai nanti kalau terjadi musibah bencana tidak bisa diklaim," tuturnya.
Dia menilai, di saat banyak bencana di dalam negeri, premi asuransi bencana diperkirakan bisa mahal. Kondisi itu yang membuat pemerintah akan mengkaji lebih lanjut.

Agus tidak menampik kemungkinan asuransi bencana itu akan dilakukan oleh konsorsium yang terdiri atas sejumlah perusahaan asuransi. "Ya bisa saja. Tapi tetap saja konsorsium itu jumlahnya banyak dan risiko juga cukup besar," tuturnya.
Sebelumnya, usulan Menkeu Agus Martowardojo itu juga direspons positif pelaku industri asuransi. "Kami sangat senang kalau pemerintah akan mewujudkan itu (asuransi bencana)," kata Presiden Direktur PT Asuransi Maipark Indonesia, Frans Y Sahusilawane ketika dihubungi VIVAnews, belum lama ini.

Asuransi Maipark Indonesia adalah asuransi yang menangani risiko khusus seperti gempa bumi. Perusahaan ini merupakan hasil kerja sama industri asuransi di Indonesia.

Dalam usulannya kepada pemerintah, asuransi bencana harus melibatkan seluruh pelaku di industri asuransi di dalam negeri. Perusahaan reasuransi yang dilibatkan adalah perusahaan di luar negeri yang memiliki reputasi besar. "Jadi, ini (asuransi bencana) akan aman karena perusahaan reasuransi besar dunia juga siap mendukung," katanya.

Apapun kebijakan yang nanti diterapkan oleh pemerintah, implementasi adalah kunci dari segalanya. Setumpuk peraturan dan undang-undang tidak akan berarti tanpa adanya konsistensi dari pelaksanaan konsep yang telah dirancang. Kita harapkan bahwa kejadian bencana kali ini benar-benar memberi pelajaran yang berarti bagi kita dan kita tidak melulu melemparkan kesalahan pada pihak lain.

Sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris II Kedubes Jepang untuk Indonesia, Takeshihi Muronaga, tahun 2006 lalu, kita tidak dapat mencegah terjadinya badai dan gempa bumi. Kewajiban kita adalah berusaha menekan dan terus menekan agar jumlah korban terus berkurang dari satu bencana ke bencana berikutnya.

(Akhiruddin Panyalai, dari berbagai sumber)

Iklan

sesuatu yang seharusnya kita lakukan untuk Wasior

Barangkali tidak akan ada manusia Indonesia belahan barat yang tahu ada suatu daerah bernama Wasior di ujung timur Nusantara jika tak ada bencana banjir bandang pada 4 Oktober 2010 yang lalu. Bukan, ini bukan bentuk diskirimniasi. Inilah bukti betapa luasnya negeri kita sehingga umur seorang manusia pun belum menyediakan waktu yang cukup baginya untuk menjelajahi kekayaan negeri ini.

Memang, ini bencana. Tapi, akankah setiap bencana akan melahirkan bencana berikutnya? Apakah bijak ketika bencana terjadi yang kita lakukan hanya berteriak-teriak terhadap keengganan Presiden untuk segera mengunjungi Wasior, atau dengan mengumpat-ngumpat membandingkan perlakuan yang timpang antara penanganan Wasior dibandingkan dengan penanganan terhadap bencana sebelumnya di Aceh, Jogja, Sumut, dan Padang?

<< DATA KORBAN WASIOR (11/10) >>

KONDISI JUMLAH
Meninggal Dunia 144
Luka Berat 186
Luka RIngan 535
Hilang 103
Pengungsi 4.375

sumber : http://www.depsos.go.id/

Ada hal yang lebih baik untuk kita lakukan, daripada sekedar melemparkan kesalahan pada orang lain. Sesuatu yang seharusnya kita lakukan untuk Wasior. Berikut saya sajikan beberapa penyalur bantuan yang representatif untuk menyalurkan bantuan anda kepada saudara-saudara kita di sana. Bantuan berupa uang akan lebih bijak mengingat para penyalur akan lebih paham kondisi di lapangan sehingga dapat menyediakan kebutuhan logistik yang diperlukan untuk tahap recovery.

PALANG MERAH INDONESIA

Donasi Melalui SMS *811# Bersama untuk kemanusian di era digital, mari berdonasi melalui layanan sms. Untuk para pengguna Telkomsel, silahkan ketik *811#, pilih PMI (2), lalu ikuti petunjuk selanjutnya.

Donasi Bencana Umum 1. Bank Mandiri KCP Jakarta Krakatau Steel, No.Rekening 070-00-0011601-7, atas nama Palang Merah Indonesia  2. Bank Rakyat Indonesia (BRI) KC Jakarta Pancoran, No.Rekening 0390-01-000030-3, atas nama Palang Merah Indonesia 3. Bank Central Asia (BCA) KCU Sudirman, No.Rekening 035.311223.3, atas nama Kantor Pusat PMI (Perhimpunan PMI)

Donasi Menggunakan Mata Uang Dollar Amerika (USD)Bank  Mandiri KCP Jakarta Wisma Baja, No. Rekening: 070-00-0584905-9, Atas nama: Palang Merah Indonesia.

BULAN SABIT MERAH INDONESIA

Donatur Umum BSMI : Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Tanjung Priok No. 0200038569 An. Bulan Sabit Merah Indonesia

METRO TV

Bank Mandiri Cabang Jakarta Taman Kebon Jeruk dengan nomor rekening 117-0000-778894 dan BCA Kantor Cabang Utama Puri Indah dengan nomor rekening 288-3333-888 atas nama PT Media Televisi Indonesia

PKPU

BCA No. 600.034.7777, Bank Mandiri No. 126.000.1005.114 dan BMI No. 301.00354.15 a.n PKPU

 MER-C

Bank Syariah Mandiri (BSM), Cabang Kramat. Swiftcode : bsmdidja a.n Medical Emergency Rescue Committee No. Rek 128.0011.802

Dan masih banyak lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya yang terpercaya.

(Akhiruddin Panyalai)

Antara Wilders dan RMS

Meskipun presiden telah menyatakan secara resmi bahwa alasan penundaan kunjungan ke Kerajaan Belanda pada tanggal 5 Oktober 2010 lalu adalah karena diselenggarakannya persidangan di Den Haag yang berisi tuntutan aktivis RMS agar hak imunitas SBY dicabut sehingga dapat ditangkap begitu tiba di Belanda terkait tuduhan adanya pelanggaran HAM di Maluku, namun selentingan pihak juga berpendapat bahwa itu bukanlah alasan murni kenapa Presiden menunda kujungannya ke negeri kincir angin tersebut. Mereka menyebut-nyebut nama Geert Wilders.

Siapa itu Wilders?

Masih ingat gonjang-ganjing film berjudul Fitna? film yang memprovokasi umat Islam untuk bereaksi keras itu disponsori oleh seorang anggota parlemen Belanda dari Partai untuk Kebebasan (PVV) bernama Geert Wilders. Kecaman keras umat Islam di seluruh dunia disambut Wilders dengan kampanye global anti-Islam yang dipenuhi kebencian untuk menghancurkan Islam. Bahkan, sebagian negara Islam mengharamkan kehadiran Wilders di negaranya.

Situasi politik di Belanda memanas berkaitan dengan rencana pembentukan kabinet yang konon akan melibatkan Geert Wilders. Dubes Indonesia untuk Belanda Junus Effendi Habibie berkomentar terkait masuknya Wilders dalam kabinet dalam media Finacieele Dagblad (23/9) dengan mengatakan bahwa pemilih Wilders ‘gila’ dan dijangkiti psikologi ketakutan terhadap Islam karena mendukung kampanye anti-Islam Wilders.

atas pernyataan Dubes ini, publik Belanda meradang dan menganggap Dubes telah melangkah jauh dengan mencampuri urusan dalam negeri Belanda.

Jadi, RMS atau Wilders?

Kunjungan presiden ke Belanda merupakan atas undangan PM Ben Bot dan Ratu Belanda. Hal ini merupakan sinyalemen baik hubungan kedua negara yang semakin berkembang. Pengakuan Belanda secara de facto terhadap kemerdekaan Indonesia telah ditunjukkan pada tanggal 17 Agustus 2005 lalu dengan hadirnya PM Ben Bot dalam peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.  Kunjungan presiden ini diharapkan akan mampu mempererat hubungan bilateral yang telah lama dijalin mengingat Belanda merupakan mitra penting Indonesia di Eropa.

RMS atau Republik Maluku Selatan merupakan gerakan separatis yang telah lama menggerogoti keutuhan NKRI. Sejak proklamasi berdirinya RMS pada 25 April 1950 pemerintah berusaha menumpas gerakan separatis tersebut hingga berhasil dihancurkan pada November 1950. Pada tahun 1951 sebanyak hampir 12.500 orang RMS beserta keluarga mengungsi ke Belanda dan menjadi cikal bakal berdirinya pemerintahan asing RMS di sana. Selama puluhan tahun RMS terus menggalang kekuatan di Belanda dan teru smengadakan kontak dan doktrinasi terhadap kader RMS baik di Belanda maupun di Indonesia. Eksistensi mereka bahkan ditunjukkan pada saat peringatan Hari Keluarga Nasional  di Ambon yang dihadiri Presiden Yudhoyono pada tanggal 29 Juni 2007 dimana pada saat itu aktivis RMS mengibarkan bendera RMS dihadapan presiden. Gerakan RMS terus berkembang sampai pada saat terakhir adalah upaya mereka untuk menuntut presiden atas pelanggaran HAM terhadap aktivis RMS.

Melihat kedua isu yang berkembang di atas, baik RMS maupun Wilders agaknya berperan dalam keputusan Presiden untuk membatalkan kunjungannya ke Belanda. Wilders sendiri melalui akun twitternya berkomentar :

Capture3

“saya tidak sedih atas apapun alasan Yudhoyono membatalkan kunjungannya ke NL, dia sudah lebih dulu mem-persona non grata-kan saya ke Indonesia”

Indonesia sebagai negara sekuler berpenduduk Muslim terbesar tidak bisa tidak mempedulikan kehadiran Wilders beserta kegiatan kampanye anti-Islamnya yang telah menjurus kepada penistaan. Jika memang pembatalan kunjungan Presiden adalah reaksi terhadap WIlders, maka hal ini harus di-apresiasi mengingat hal tersebut pasti akan didukung oleh publik yang juga tidak suka terhadap sepak terjang Wilders. Bahwa presiden menyatakan RMS merupakan alasan pembatalan kunjungan juga menurut saya harus di apresiasi, karena itu juga menunjukkan sikap tegas Presiden terhadap gerakan RMS.

Sejak awal perpindahan besar-besaran aktivis RMS ke Belanda, pemerintah Belanda memberikan dukungan penuh terhadap gerakan tersebut dan memberi ruang terbentuknya pemerintahan di Pengasingan oleh RMS. Dukungan terhadap RMS oleh pemerintah Belanda sempat terganggu saat kejadian Wassemar pada tahun 1970-an dimana aktivis RMS melakukan gerakan teror sebagai reaksi atas ketidakpuasan mereka terhadap Pemerintah Belanda yang dinilai tidak sepenuh hati mendukung RMS.

Agaknya, dengan latar belakang sejarah seperi itulah Presiden mengambil sikap tegas untuk melakukan pembatalan ( baca : penjadwalan ulang ) kunjungan ke Belanda setelah situasi di Belanda kondusif. Presiden agaknya meminta sikap tegas Belanda untuk tidak menunjukkan dukungan terhadap gerakan RMS sebagai wujud de facto atas pengakuannya terhadap kemerdekaan dan kedaulatan utuh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(Akhiruddin Panyalai)

Makan, Doa, dan Cinta

Tiga kata di atas adalah terjemahan langsung dari Eat, Pray, and Love. Sebuah film yang sempat menghebohkan tanah air beberapa waktu silam dikarenakan aktris utamanya, Julia Roberts, melakukan syuting di beberapa lokasi di Bali pada penghujung tahun 2009.

[UNSET] Hollywood actress Julia Roberts, second from left and co-star Javier Bardem, left, act out a scene for their film "Eat, Pray, Love"  at a beach in Pecatu, Bali, Indonesia on Wednesday, Oct. 21, 2009. (AP Photo/Firdia Lisnawati) INDONESIA - JULIA ROBERTS

saya diberitahu GNFI kalau trailernya sudah bisa dilihat di Youtube.

 

SUTRADRA: Ryan Murphy PRODUSER: Brad Pitt, Dede Gardner; PENULIS NASKAH: Ryan Murphy, Jennifer Salt; PEMAIN:Julia Roberts (Elizabeth Gilbert), Javier Bardem (Felipe), Richard Jenkins (Richard), Viola Davis (Delia)

SINOPSIS

Memasuki usia 30 tahun, Gilbert telah mendapatkan semua yang diinginkan oleh seorang wanita Amerika modern, yaitu seorang pendamping hidup, rumah mewah, dan karier yang cemerlang. 

Namun, semua itu tak membuatnya bahagia. Gilbert yang ambisius justru menjadi panik, sedih, dan bimbang menghadapi kehidupannya. Gilbert merasakan pedihnya perceraian, depresi, kegagalan cinta, dan kehilangan pegangan dalam hidupnya.

Untuk memulihkan dirinya, Gilbert pun mengambil langkah yang cukup ekstrem. Dia meninggalkan  pekerjaan dan orang-orang yang dikasihinya untuk melakukan petualangan seorang diri berkeliling dunia.

Bagi seorang perempuan yang berpenampilan menarik, perjalanan solo ini jelas petualangan seru. Makan, doa, dan cinta adalah catatan kejadian di bulan-bulan pencarian jati dirinya itu.

Dalam petualangannya itu, Gilbert menetapkan tujuan ke tiga tempat berbeda. Di setiap negara, ia meneliti aspek kehidupan dengan latar budayanya masing-masing.

Italia menjadi tempat tujuan pertamanya. Di negeri nan elok ini, Gilbert mempelajari seni menikmati hidup dan bahasa Italia. Tak lupa, ia juga mengumbar nafsu makannya dengan menyantap aneka masakan Italia yang enak-enak. Wajar saja jika kemudian bobot tubuhnya pun bertambah 12 kilogram.

Dari Italia, Gilbert bertolak menuju India. Di negeri ini dia mempelajari seni devosi atau penyerahan diri di sebuah Ashram atau padepokan Hindu. Ia menghabiskan waktu empat bulan untuk mengeksplorasi sisi spiritualnya.

Akhirnya, Bali menjadi tujuan terakhirnya. Di Pulau Dewata inilah wanita matang ini menemukan tujuan hidupnya, yakni kehidupan yang seimbang antara kegembiraan duniawi dan ketenangan batin.

Ia menjadi murid seorang dukun tua bernama Ketut Liyer yang juga seorang pelukis dan peramal lewat bacaan garis tangan. Gilbert juga bersahabat dengan Nyoman, penjual jamu tradisional Bali.

Dan yang terpenting, di Bali, Gilbert yang sudah apatis dan merasa tak akan pernah lagi bisa berhubungan romantis dengan lelaki mana pun, akhirnya malah menemukan kembali cinta sejati pada diri Felipe, pria separuh baya asal Brasil yang jauh lebih tua darinya.

Pada akhirnya, saya berharap bahwa kita tidak hanya menumpukan harapan pada apresiasi penonton terhadap film ini sehingga mendapatkan promosi gratis akan keelokan alam Bali. Lebih jauh, saya berharap sineas-sineas Indonesia justru akan membuat karya yang lebih baik dan membuat dunia bahkan lebih terkesima. Semoga.

saya seorang Modernisator

indonesiaSaya percaya, bahwa untuk menjadi bangsa yang maju Indonesia harus dibangun dengan energi positif yang kostruktif, bukan energi negatif yang destruktif.

Saya percaya, bahwa bangsa ini memerlukan generasi yang memiliki integritas tinggi dalam mewujudkan kemajuan bangsa.

Saya percaya bahwa bangsa ini bisa dibangun hanya melalui tindakan nyata, bukan hanya kata-kata.

Saya percaya, bahwa bangsa ini tercipta untuk menjadi bangsa besar dan saya percaya, bahwa saya tidak bermimpi.

karena itu, saya bergabung dengan :

modernisatorPertanyaannya, kenapa saya bergabung dengan Modernisator?

Baca lebih lanjut

Mbah Priok vs Mbah Praja

Tenang, kali ini saya tidak akan menyajikan tarung sakti antara massa Mbah Priok dengan Polisi Pamong Praja yang membuat hati kita miris itu. Permasalahan yang seharusnya selesai dengan musyawarah itu harus berakhir tragis dengan korban nyawa dan harta benda.

GT3TkAf2fvSebelum kita salah sangka ada baiknya kita simak dulu siapa itu Mbah Priok dan kenapa makamnya dianggap begitu penting. Dan siapa pula itu Satpol PP sehingga mengharuskan mereka bertindak seperti itu.

 

Mbah Priok 

Bagi warga masyarakat, Mbah Priok atau Habib Hasan bin Muhammad al Haddad bukan tokoh biasa. Dia adalah penyebar agama Islam dan seorang tokoh yang melegenda. Namanya bahkan jadi cikal bakal nama kawasan Tanjung Priok.
Mbah Priok bukan orang asli Jakarta. Dia dilahirkan di Ulu, Palembang, Sumatera Selatan pada 1722 dengan nama Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad R.A.
Al Imam Al Arif Billah belajar agama dari ayah dan kakeknya, sebelum akhirnya pergi ke Hadramaut, Yaman Selatan, untuk memperdalam ilmu agama.
86115_santri_gunakan_senjata_tajam_cegah_penggusuran_makam_mbah_priok Menjadi penyebar syiar Islam adalah pilihan hidupnya. Pada 1756, dalam usia 29 tahun, dia pergi ke Pulau Jawa.
Al Imam Al Arif Billah tak sendirian, dia pergi bersama Al Arif Billah Al Habib Ali Al Haddad dan tiga orang lainnya menggunakan perahu.
Konon, dalam perjalanannya, rombongan dikejar-kejar tentara Belanda. Namun, mereka tak takluk.
Dalam perjalanan yang makan waktu dua bulan, perahu yang mereka tumpangi dihantam ombak. Semua perbekalan tercebur, tinggal beberapa liter beras yang tercecer dan periuk untuk menanak nasi.

Baca lebih lanjut