Bidadari – Episode 4

lanjutan dari episode sebelumnya

Ini adalah bulan ke-enam sejak pertama aku melihat Bidadari.

Namun, semenjak itu tak sekalipun juga mataku bersirobok dengan sosok gadis berjilbab lebar yang tangannya sedang menari-nari di atas kertas sambil sesekali tertawa bersama teman-temannya.

Pembicaraanku dengan Razi kala itu sedikit banyak mengusik pikiranku. Pertanyaan Razi malah menggiringku pada persangkaan-persangkaan diriku sendiri. Bahwa perasaanku pada Bidadari ternyata hanyalah nafsu belaka? Bahwa ternyata sejauh ini perubahanku hanya bermotifkan keinginan mempersunting seorang istri yang shalehah? Bahwa aku telah mencoba menipu Allah dengan menyembunyikan niat yang sebenarnya untuk berubah?

Astagfirullah Al Adziiim…

Allahu Rabbi, mungkinkah yang kulihat kala itu benar-benar seorang Bidadari? Yang hanya singgah sebentar ke Bumi untuk menunjukkan KeMahaKuasaan-Mu?. Mungkinkah dengan itu Engkau memberiku jalan sehingga menemukan hidayah-Mu untuk bergabung bersama Majelis Taklim sehingganya aku bisa mulai merajut kembali tali iman yang sudah putus sehingga menjadi utuh kembali?

Tak dinyana keningku tersungkur menyentuh sajadah. Mata ini menangis, aku merasa sangat angkuh di hadapan Allah. Aku menangisi kecongkakanku yang menafikan kekuasaan-Nya. Aku menangisi kelengahanku akan KeMahaDayaan Allah…

Bahwasanya ‘Kun’, fayakun. Maka segala sesuatu itu terjadilah.

Tidak ada yang sukar bagi Allah. Justru manusialah yang terlalu dhaif untuk menalar kekusaan-Nya. Allah telah mengepungku dengan manusia-manusia yang luar biasa : ada Razi yang terus sabar membimbingku. Ada Haykal yang menjadi teladanku, dan ada Bidadari yang senantiasa terus mengilhamiku. Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Hamba kembali pada-Mu Ya Allah… seutuhnya.

* * *

Tanganku yang memegang pulpen menari-nari di atas kertas note block. Aku dan teman-teman majelis taklim sedang mengatur perencanaan kegiatan Pengumpulan Dana untuk Palestina. Kami berada di kantin Labor. Sesekali kami tertawa bersama. Kantin ini adalah kantin favoritku, selain karena makanannya enak dan harga yang cocok dengan kantong anak kos, lokasinya yang bersebelahan denga taman bunga membuatku betah berlama-lama disini. Sejuk, dan damai. Barangkali itu juga adalah pertimbangan orang-orang ini mangkal di sini.

“Anas dan Mahdi barusan konfirmasi, mereka bilang masalah tempat dan izin dari kepolisian udah beres” sergah Razi tiba-tiba.

“Eh, iya, kenapa Zi?” ucapan Razi membuyarkan lamunanku.

“hei, kenapa? Antum mikirin Bidadari lagi?”

Aku tersenyum getir. lalu menggeleng “Engga Zi. seperti yang gue bilang. Insya Allah sekarang semuanya udah jelas buat gue. Gue menganggap Bidadari hanyalah sosok fiktif dalam perjalanan hidayah gue. Dan gue berusaha buat ngelurusin niat gue lagi”

“Alhamdulillah kalau begitu. Eh, itu Haykal lagi jalan ke sini. Gue mo nanya kesediaan Ustadz Mishbah buat ngasih orasi pas kegiatan kita nanti”

Dari kejauhan tampak Haykal dengan langkah gontai berjalan bersama seseorang.

“Eh, eh, i..itu siapa yang jalan sama Haykal, Zi?”

“Oh… itu Haura, istri Haykal. Anak Fakultas Kedokteran. Mereka udah nikah sejak tujuh bulan lalu.  Ah, ngeliat mereka bikin gue iri, mereka memang pasangan serasi”

“Ha..Haura..?”

Bibirku membeku, Wajahku pasi, Tubuhku diam membisu. Tak ada kata-kata yang keluar. Hanya pana.

Sosoknya begitu kukenal…

olala…. Siapa itu? Tangannya yang sedang memgang kertas dan pulpen menari-nari di atas meja makan. Sepertinya gadis ini sedang menjelaskan sesuatu. Setiap ucapannya disahuti anggukan temannya tanda paham. Sesekali mereka tertawa bersama, kemudian tangan yang tertutup rapat sampai pergelangan itu kembali menari-nari di atas kertas. Tanpa tersadar aku telah terbuai kesejukan taman bunga yang didiami bidadari berjilbab lebar yang sedang memegang pulpen dan kertas. Dalam sekejap semua orang di kantin raib dari pandanganku tergantikan seorang bidadari yang tersenyum ramah padaku. Bidadari ini bukanlah bidadari yang seksi dan kerap menunjukkan aurat sebagaimana banyak terangkum dalam literatur-literatur Barat, namun bidadari ini seorang akhwat berjilbab lebar dan berbaju gamis. Justru karena tertutup inilah malah terpancar keindahannya. Tutur kata yang sopan, mata yang kerap tertunduk dan tidak liar membuat hatiku teduh memandangnya. Sejuk dan damai. Persis seperti taman bunga yang sedang bermekaran indah…

Bidadari…itu Bidadari,

“Ya Allah, berilah hamba keteguhan iman…”

 

 tamat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s